50 Dadak Merak Meriahkan Tasyakuran PSHT Ranting Jatiyoso, Ribuan Warga Padati Lapangan Beruk
Tasyakuran PSHT Jatiyoso 2026 dimeriahkan 50 dadak merak Reog Ponorogo. Simak pesan Ketum PSHT Pusat Madiun dan Bupati Karanganyar.
KARANGANYAR – Puluhan dadak merak Reog Ponorogo menjadi salah satu daya tarik tasyakuran warga baru Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Ranting Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Sabtu (31/10/2026). Sebanyak 50 dadak merak ditampilkan dalam pertunjukan kolosal yang menyedot perhatian masyarakat.
Lapangan Desa Beruk, Kecamatan Jatiyoso, menjadi pusat keramaian sejak siang. Ribuan warga dilaporkan memadati lokasi untuk mengikuti rangkaian tasyakuran sekaligus menikmati pertunjukan kesenian tradisional yang berlangsung hingga malam hari.
Namun, kemeriahan tersebut bukan satu-satunya perhatian dalam kegiatan ini. Di hadapan warga baru PSHT Pusat Madiun, jajaran pimpinan organisasi mengingatkan bahwa pengesahan sebagai warga bukanlah akhir perjalanan. Justru, tanggung jawab untuk mengamalkan ajaran budi pekerti luhur dimulai ketika mereka kembali hidup di tengah masyarakat.
Tasyakuran PSHT Ranting Jatiyoso 2026 itu turut dihadiri Ketua Umum PSHT Pusat Madiun Drs. H. R. Moerdjoko H.W., Ketua PSHT Cabang Karanganyar Kang Mas Sutarmo, serta Bupati Karanganyar H. Rober Christanto, S.E., M.M.
Ketum PSHT Pusat Madiun Moerdjoko Minta Warga Baru Berdaya di Masyarakat
Ketua Umum PSHT Pusat Madiun, Moerdjoko, memberikan perhatian khusus terhadap tanggung jawab sosial anggota organisasi.
Menurutnya, warga PSHT harus mampu menunjukkan manfaat nyata bagi lingkungan tempat mereka tinggal. Kemampuan pencak silat dan status keanggotaan tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang dalam menjalani pendidikan organisasi.
“Warga Persaudaraan Setia Hati Terate harus mampu berdaya di masyarakat dalam segala hal. Ubah paradigma menjadi warga yang benar-benar berbudi pekerti luhur, yang mampu membedakan mana yang benar untuk dilakukan dan mana yang salah untuk ditinggalkan,” pesan beliau.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi warga baru agar menjadikan nilai-nilai yang diperoleh selama latihan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap saling menghormati, tanggung jawab, serta kemampuan menjaga hubungan baik dengan masyarakat menjadi bagian penting dari pengamalan ajaran persaudaraan.
Ketua Cabang Karanganyar: Pengesahan Bukan Akhir Pembelajaran
Pesan serupa disampaikan Ketua PSHT Cabang Karanganyar Pusat Madiun, Kang Mas Sutarmo.
Ia menekankan bahwa pengesahan warga baru tidak seharusnya dimaknai sebagai pencapaian akhir setelah menjalani proses latihan.
Sebaliknya, momentum tersebut merupakan awal tanggung jawab yang lebih besar untuk mengamalkan pendidikan karakter dan nilai-nilai persaudaraan.
“Menjadi seorang warga PSHT bukanlah akhir dari sebuah proses belajar, melainkan gerbang permulaan dari sebuah pengabdian yang sesungguhnya. Ajaran budi pekerti luhur yang telah ditanamkan selama masa latihan harus benar-benar diresapi, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PSHT Ranting Jatiyoso sekaligus penyelenggara kegiatan, Kang Mas Sartono, S.H., mengajak seluruh anggota menjaga kekompakan dan memperkuat nilai persaudaraan di tengah dinamika kehidupan masyarakat.
Ia menempatkan kerukunan sebagai salah satu hal penting yang perlu terus dirawat, baik dalam hubungan sesama anggota maupun interaksi dengan masyarakat luas.
Bupati Karanganyar Ingatkan Warga PSHT Jaga Kondusivitas
Kehadiran Bupati Karanganyar Rober Christanto turut menjadi perhatian dalam kegiatan tasyakuran tersebut.
Rober, yang dalam kegiatan itu diperkenalkan sebagai bagian dari keluarga besar PSHT Pusat Madiun, menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan tasyakuran warga baru sekaligus pertunjukan budaya tradisional.
Namun, ia juga menitipkan pesan agar seluruh anggota PSHT ikut menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.
“Mari kita jaga bersama kondusifitas daerah kita, jangan berbuat hal-hal yang tidak baik. Jadilah teladan di masyarakat,” ujar Bupati Karanganyar yang juga mengapresiasi penampilan spektakuler 50 dadak merak Reog Ponorogo dalam acara tersebut.
Pesan tersebut menegaskan pentingnya peran organisasi pencak silat dalam membangun hubungan harmonis dengan masyarakat.
Dengan jumlah anggota yang tersebar di berbagai wilayah, PSHT diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kerukunan dan menciptakan lingkungan sosial yang kondusif.
50 Dadak Merak Reog Ponorogo Jadi Magnet Tasyakuran
Ilustrasi kesenian Reog Ponorogo dan Jathilan, bukan dokumentasi kegiatan tasyakuran PSHT Jatiyoso.
Di luar agenda pembinaan organisasi, tasyakuran warga baru PSHT Ranting Jatiyoso juga menghadirkan pertunjukan seni tradisional yang terbuka bagi masyarakat.
Salah satu penampilan paling menonjol adalah pertunjukan Reog Ponorogo yang melibatkan 50 dadak merak. Kehadiran puluhan properti ikonik kesenian asal Ponorogo tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung Lapangan Desa Beruk.
Selain Reog Ponorogo, penyelenggara menampilkan kesenian Jathilan serta sejumlah pertunjukan tradisional lainnya.
Perpaduan kegiatan organisasi dan pertunjukan budaya membuat acara tidak hanya diikuti anggota PSHT, tetapi juga menjadi hiburan bagi masyarakat Desa Beruk dan wilayah Jatiyoso.
Rangkaian kegiatan yang dimulai sekitar pukul 13.00 WIB itu berlanjut hingga malam. Panggung hiburan musik menjadi penutup agenda tasyakuran.
Tasyakuran Sekaligus Ruang Pelestarian Budaya
Melalui kegiatan tersebut, PSHT Ranting Jatiyoso memadukan dua agenda dalam satu perhelatan, yakni penguatan nilai persaudaraan bagi warga baru dan pelestarian kesenian tradisional.
Pertunjukan Reog Ponorogo dan Jathilan memberi ruang bagi masyarakat untuk menikmati warisan budaya Nusantara secara langsung.
Di sisi lain, kehadiran pimpinan organisasi dari tingkat ranting, cabang, hingga pusat menjadi kesempatan untuk menyampaikan pesan pembinaan kepada warga baru.
Tasyakuran PSHT Jatiyoso 2026 pun tidak berhenti pada perayaan pengesahan anggota. Pesan yang dibawa pulang para warga baru justru menyangkut tanggung jawab setelah pengesahan: menjaga nama baik organisasi, menjadi teladan di lingkungan, dan mengamalkan ajaran budi pekerti luhur dalam kehidupan sehari-hari.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0